Desain Modifikasi Motor Terbaik: www.otodesain.net

  • 04:13:00 pm on September 7, 2011 | 11
    Tags: , , , ,


    Satu hal yang masih jadi pertanyaan terbesar di motoGP musim 2011 adalah “Apakah Rossi lebih jelek dibandingkan Stoner?” Hihihi..pertanyaan itu pula yang jadi perdebatan seru buat para fans Rossi dan Stoner. Kadang ane mikir, wong yang balap juga gak debat kok…wakakakaka…:mrgreen: Padahal seinget ane, Rossi gak pernah merendahkan Stoner tentang prestasinya di Ducati, begitu pula Stoner gak merendahkan Rossi yang saat ini sedang berjuang nunggangin GP11.1. Plus..beberapa kali pun Rossi mengakui kalau Stoner berbeda dengannya dalam hal mengendalikan montor. Kaya yang diakuinya di GP Misano kemaren:

    Stoner Rossi MotoGP Ducati

    Gak nyangka kan...ternyata mereka berdua memperlakukan front end motor dengan berbeda...

    Casey’s style stresses the front end less – Valentino explained – and his body size allows for a different seating position to my own.  Trying to ride like him would be a mistake, but it could be useful to try and stress the front tire less.”

    So..ternyata gaya balap Stoner gak terlalu bertumpu pada front end (dibandingkan dengan Rossi). Ukuran tubuhnya yang berbeda dengan Rossi membuat Stoner bisa memilih riding position yang tepat di GP10. “Berusaha meniru gaya balap Stoner, itu adalah sebuah kesalahan”, gitu kata Rossi. Tapi, apa yang bisa ditiru dari Stoner adalah dengan tidak begitu bertumpu pada ban depan! Weleh…mau ngelayang Kang:mrgreen: ? Ditambah Rossi yang tumbuh dengan motor ber-belulang nikmat, tentu saja proses adaptasi dengan Ducati tambah lama. 7 tahun hidup bersama motor yang ban depan nya bisa ditekan habis-habisan tentu saja masih berpengaruh bagi Rossi.

    Wew…Ducati n Rossi emang seperti puzzle yang terkuak sedikit demi sedikit. Buat penggemar Vale, setiap berita adalah kabar yang ditunggu. Sedangkan buat pembenci Vale, setiap kabar juga ditunggu untuk dicibir…. Ah…nikmatin aja balapnya, wong Rossi juga gak ambil pusing ma komentar orang:mrgreen:

     

     

Comments

  • assassin 4:22 pm on September 7, 2011 | # | Reply

    gw gak terlalu ngefans ama stoner…..tapi ternyata gaya balap dia rada aneh…, tapi dia gak bertumpu ama roda depan…tapi hobbi sliding…gmn tuch…beda bgt ama rossi……

    • masTer Samidi O_O 1:02 am on September 10, 2011 | # | Reply

      Hihi..walopun dulu waktu di Honda Rossi juga hobi sliding, ternyata cara bawa nya tetep beda!

  • win 7:37 pm on September 7, 2011 | # | Reply

    emg beda

  • Pakdhe Toet 9:01 pm on September 7, 2011 | # | Reply

    gaya stoner, gas pol rem pol (stop & go), kalo rossi rossi cenderung smooth tancep gas, kalo ga salah lho ya ? padahal mesin ducati sdh terkenal sangar dr sononya, sayang sekali tidak diimbangi pengembangan chassis carbon-nya yg monocoque, tp ada tanda2 rossi pengen Ducati menerapkan chassis aluminium spt yg dipakai Tim2 lainnya

    • masTer Samidi O_O 1:05 am on September 10, 2011 | # | Reply

      Yup…isu sasis memang jadi isu akbar (wakakaka) tahun ini..moga tahun depan gak ada lagi itu itu!

  • justmyimage 9:09 pm on September 7, 2011 | # | Reply

    Salam hangat mas bro

    justmyimage
    rossi sperti 2 mata koin y mas bro..

    mau nitip paket ya mas bro

    http://justmyimage.wordpress.com/2011/09/07/konsep-kedua-saya-membangun-motor-nasional/
    maturnuhun

  • Dismas 10:15 pm on September 7, 2011 | # | Reply

    Moga taun depan bisa pulih…

    nitip mas➡ http://dizmaz.wordpress.com/2011/09/07/pembalap-motogp-paling-cengeng-ow-ow-siapa-dia/

  • ben piss 12:06 am on September 8, 2011 | # | Reply

    Weitss….pengakuan Rossi diatas ternyata tepat dengan analisa gw yang gw share di blog-nya Bro Iwan Banaran…
    http://iwanbanaran.wordpress.com/2011/09/03/akhirnya-stoner-angkat-bicara-tentang-polemik-sasis-karbon-ducati/#comment-49160

    • masTer Samidi O_O 1:03 am on September 10, 2011 | # | Reply

      Sip..mantap lah bro…😎 buat tambahan info juga..makasih!

  • rossifumi 8:10 pm on September 8, 2011 | # | Reply

    ben piss: tak bantuin ngopiin komennya yak
    “Gw ingat komentar Kenny Roberts (senior) tentang
    perbedaan pembalap Amerika & Australia dibandingkan
    dengan pembalap Eropa pada umumnya.
    Menurut doi , pembalap Amerika & Australia
    mengarahkan motor di tikungan lebih menggunakan
    ban belakang dibandingkan dengan pembalap Eropa
    yang mengandalkan roda depan.
    Kenny Robert inilah yang memperkenalkan teknik rear
    wheel steering di GP 500 .
    Walaupun akhirnya setelah teknik ini terkenal dan mulai
    diadopsi oleh pembalap Eropa , feeling mereka atas roda
    depan tidak bisa hilang .
    Teknik boleh rear wheel steering tapi feeling
    mengandalkan roda depan tetap tidak bisa hilang .
    Pembalap Amerika & Australia , walaupun sudah tidak
    menerapkan lagi teknik rear wheel steering di MotoGP
    800 cc seperti pembalap Eropa lainnya karena karakter
    power yang tidak menguntungkan , feeling pada roda
    belakang tidak bisa hilang begitu saja .
    Kaitannya dengan ban depan Desmosedici yang
    menurut Rossi tidak bisa memberikan input yang presisi
    ke pembalap saat masuk tikungan & keluar tikungan
    terutama pada saat ban dingin, dan sialnya sangat sulit
    memberikan panas yang cukup pada roda depan ini.
    Kalau pembalap memaksa memberikan beban ke roda
    depan dengan harapan untuk memberikan panas dan
    traksi, pembalap tidak tau batas maksimalnya karena
    kurangnya feed back dari ban depan.
    Akhirnya pembalap rawan jatuh saat masuk tikungan .
    Tapi untuk traksi roda belakang, Rossi memuji kelebihan
    Desmosedici.
    Gw melihat dua hal ini, karakter Desmosedici & riding
    style pembalap , sebagai kunci jawaban kenapa
    Desmosedici di tangan Stoner bisa begitu perkasa tapi
    ditangan pembalap lainnya hancur -hancuran .
    Di tangan Hayden, GP1 .1 lebih mampu berbicara
    daripada di tangan Rossi .
    Stoner dengan riding style khas Australia ditunjang ke-
    agresifitasnya yang diatas rata – rata membuatnya bisa
    menjinakkan Desmosidici .
    Desmosedici boleh saja memiliki kelemahan pada roda
    depannya yang kurang memberikan feed back & traksi
    ke pembalap , tapi Stoner memang kurang
    membutuhkan hal itu.
    Dia bisa menutupinya dengan mengandalkan roda
    belakang.
    Dan dengan agresifitasnya di tikungan, pertengahan lap
    sampai lap-lap akhir roda depan perlahan- lahan akan
    mendapatkan panasnya sehingga bisa memberikan feed
    back yang baik.
    Cara itu sampai sekarang memang paling efektif untuk
    memaksimalkan potensi Desmosedici, tapi juga paling
    menguras tenaga dan konsentrasi.
    Hayden mencatat prestasi lumaya saat mengendarai
    Desmosedici, mungkin perlu ditambah agresifitasnya .
    Untuk Rossi , pilihannya ada dua. Mengubah riding style
    atau terus memaksa Ducati menguras resource-nya
    untuk mengubah karakter Desmosedici menjadi seperti
    motor-motor Jepang.”


Tulis komentar aaahhh....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: