Desain Modifikasi Motor Terbaik: www.otodesain.net

  • 02:55:44 pm on August 26, 2011 | 14
    Tags: , , ,


    Holaaaaaa…..seri motoGP Indianapolis bakal berlangsung dalam beberapa jam lagi…buat yang mudik (kaya ane) terancam gak bisa nonton. Misalpun bisa nanton bakal masih capek ni badan…huhu..tapi untuk motoGP apapun bakal kulakukan..wakakakaka…gak diiing… mari bro, kita obrolin sedikit motoGP yang masih seru ini. Kalo masalah berita-berita terbaru sih kayanya gak ada up date an berita yang spektakuler. Ducati masih terus berjuang, Honda masih terus diatas angin dan Yamaha yang masih berusaha habis-habisan ngejar Honda. Daripada bingung ngobrolin apa, mendingan jadi ahli prediksi yang sok tau aja. Kali ini ane mencoba memprediksi apa yang bakal terjadi di tahun 2012. Apakah akan kiamat? Gaaaa…itu mah suku maya yang malah udah kiamat duluan:mrgreen:

    Mika Kallio, VDS Racing, Moto1, CRT, MotoGP

    Bukan darah murni motoGP? Susaaaah....

    Tahun 2012 bakal jadi tahun tonggak (wakakakaka kaya bahasa pejabat aja) dijalankannya CRT atow Claiming Rules Team. Jadi, selain tim-tim pabrikan yang selama ini berlaga di motoGP kaya Yamaha, Honda dan Ducati, bakal ada tim-tim privat lain yang ikut balap. Tim privat itu menggunakan mesin motor jalanan biasa (superbike dong, bukan bebek) tapi dengan sasis yang dibuat sendiri atow sasis prototipe. Yah, mirip moto2 lah, tapi mesinnya bebas mau pake apa. Tim ini jelas lebih lemah dong dibanding tim pabrikan. Mesin motor yang dipakai tim CRT pun tentunya gak segalak tim pabrikan utama. Nhaaa…biar adil, tim CRT dikasih keistimewaan. Mereka boleh menggunakan 12 mesin dalam satu musim balap (kalo tim pabrikan cuma 6 mesin). Bahan bakar yang dipakai oleh tim CRT pun lebih besar, yaitu 24 liter (tim pabrikan 21 liter).

    Semua keistimewaan itu diberikan kepada tim CRT agar motoGP 2012 berlangsung ramai. Gak kaya sekarang yang hanya diikuti 17 pembalap. Dengan cuma 17 pembalap, sekalinya beberapa pembalap absen cedera, jaminan dapet poin deh. Tapiiiii…..seri motoGP berlangsung lebih dari separo di tahun ini, tim CRT sepertinya masih bakal jadi penghibur aja. Walaupun terdaftar 6 tim CRT tapi baru satu tim yang ikut pengujian resmi (Marc VDS Team) dengan pembalap Mika Kallio. Hasilnya pun gak seindah yang diimpikan. Pada pengujian pertama mereka tertinggal 6 detik dibelakang Honda. Dan pada pengujian kedua mereka tertinggal 3 detik dibelakang Honda tercepat. Yah, walaupun Marc VDS Team bisa memangkas 3 detik dan cukup optimis, sepertinya masih susah mengejar motor-motor prototipe dengan darah murni. Kenapa sulit? Ya bayangin aja lah…Ducati yang berusaha mengejar jarak 0.5 detik aja butuh waktu lebih dari setengah musim. Itu aja belum sempurna. Apalagi jarak 3 detik…dooohhhh….. Plus, walaupun Ducati adalah tim yang relatif ‘kecil’ dibandingkan Honda dan Yamaha, support dari sponsor dan support engineering nya gak usah diragukan lagi. Sedangkan tim CRT? Tentunya gak sekuat Ducati dooong…

    Mika Kallio, VDS Racing, Moto1, CRT, MotoGP

    Asa panitia motoGP di tahun 2012

    Sepertinya pabrikan-pabrikan motor sudah tahu kalau turun penuh di motoGP bakal nyedot biaya yang sangat besar. Padahal gak ada jaminan menang juga karena kompetisinya sangat ketat dan berdarah-darah. Mungkin Aprilia belajar dari kegagalan masa lalu. Ketika merek turun di awal-awal era 4 tak, mereka sukses dan memutuskan mundur dari dunia motoGP. Karena itulah di tahun 2012 mereka memilih menyediakan mesin saja buat tim CRT yang mau memakai mesin Aprilia.

    Sepertinya, untuk lebih meramaikan motoGP, Dorna harus meracik kebijakan yang lebih revolusioner. Kebijakan yang menghilangkan kesenjangan antara tim utama dan tim satelit. Satu bahaya yang harus diingat oleh penyelenggara motoGP. Sebesar dan sekuat apapun tim pabrikan, mereka tetap bergantung pada sponsor dan hasil penjualan motor mereka. Ketika dua faktor itu melempem, bukan gak mungkin tim motoGP undur diri! Kondisi ini udah terjadi di WSBK. Yamaha memutuskan undur diri dari tim utama karena penjualan mereka banyak yang merosot, terutama di pasar Eropa. Ditambah gak ada sponsor? Ya mending gak balap, mending fokus mbenerin pasar! Pabrikan jepang masih beruntung, ketika penjualan di Eropa menurun, mereka masih memiliki Asia sebagai penopang hidup. Sedangkan pabrikan motor eropa kaya BMW, Aprilia, Norton dan KTM? Sebagian besar mereka gak punya basis di Asia. Soooo..untuk terjun di motoGP yang butuh biaya super gede bukanlah keputusan yang mudah. Bagi mereka, keputusan itu (mungkin) seperti keputusan yang mempengaruhi hidup dan mati.

    Soooo…akankah motoGP 2012 berlangsung seru? Yah tergantung CRT dan kondisi perekonomian dunia. Padahal CRT yang udah ikut uji coba aja masih teringgal 3 detik…dan penjualan motor di Eropa masih belum pulih benar. Yahhh…semoga aja prediksi ane salah…

     

Comments

  • ValenTIEno46 4:44 pm on August 26, 2011 | # | Reply

    Mantaaap master samidi…semoga tetap seru motogp 2012…dan jg semoga trans 7 ttp berbaik hati menyiarkan motogp.

  • rossifumi 6:58 pm on August 26, 2011 | # | Reply

    kayanya susah ya mas sam,.:D
    yang pasti moga ducati lebih friendly and mau diajak boboan yang bisa dirasakan seluruh bagiannya sama ridernya,.jadi kembali ada fight yang seperti mas sam bilang,.
    “Berdarah-darah”

  • win 6:58 pm on August 26, 2011 | # | Reply

    mantep analisanya mister
    mudik kemn nih?smoga selamat sampe ditujuan…amin

  • Mercon C Part 3 8:10 pm on August 26, 2011 | # | Reply

    intinya kalo bisa sih Honda jual RCV gak usah kemahalan, mending diturunin aja harganya

  • Grunge 9:01 pm on August 26, 2011 | # | Reply

    Mending larang aja traksi control biar imbang. Motor satelit aja minim traksi control gk bisa ngejar tim pabrikan apalagi tim CRT, lom lagi traksi control amat mahal. Dijamin tanpa traksi control persaingan lbh fair karna mengedepankan skill rider

  • ben piss 9:50 pm on August 26, 2011 | # | Reply

    Persoalan nomor 1 dari gelaran MotoGP adalah Dorna tidak pandai menjual gelaran ini untuk mendapatkan profit yang sebesar-besarnya, baik untuk penyelenggara, tuan rumah, maupun tim peserta.

    Yang dipikirkan Dorna tiap tahun adalah bagaimana agar tim peserta bisa berkurang beban pengeluarannya dengan tujuan agar ada tim – tim baru yang tertarik untuk ikut serta.

    Logika berpikir yang menurut saya salah besar!!!

    Kalau dana dipangkas, kualitas balapan pasti akan ikut turun.
    Contoh paling nyata adalah Moto2.
    Tiap seri memang ketat posisi podium, tapi coba tengok lap time nya!
    What the f@%#k!!!
    Dengan GP250 kalah jauh, bahkan dengan WSS yang notabene motor produk massal yang di tune up saja juga masih kalah tipis.
    Gengsi seorang world champion Moto2 langsung turun drastis.
    Kualitas seorang world champion Moto2 juga turun drastis, contoh kasus: kualitas seorang Toni Elias jauh dibandingkan mantan juara GP250 bahkan dari mantan juara Suberbike & WSS.
    Padahal dia begitu dominan di tahun 2010, bagaimana dengan kualitas juara 2, 3, dst???
    Temannya yang juga jebolan Moto2, si Karel Abraham…sami mawon…
    Masih syukur mereka berdua pernah digembleng di GP250 (Elias bahkan pernah mencicipi MotoGP 990 & 800), tapi bagaimana dengan generasi baru yang memulai karir dari Moto3 & Moto2 kelak????
    Dan yang paling gawat kalau regulasi seperti Moto2 & Moto3 sudah merambat ke MotoGP…tamatlah riwayat gelaran (akbar) tersebut.
    Karena dengan turunnya kualitas & gengsi balapan, tambah sulitlah memancing penonton dan sponsor. Ujung-ujungnya, tim-tim peserta akan mundur teratur.

    Kenapa gak dibalik logikanya?
    Dorna harusnya berusaha agar setiap tim peserta bisa mendapatkan income besar dari setiap keikutsertaannya di race MotoGP, berusaha agar setiap tuan rumah (baik pemilik sirkuit maupun negara tuan rumah) mendapatkan keuntungan finansial besar dari setiap gelaran MotoGP.
    Ingat kata pepatah, ada gula ada semut.
    Kalau menjadi peserta bisa untung besar, dengan sendirinya tim-tim baru akan ngantri mendaftarkan diri jadi peserta MotoGP, sirkuit-sirkuit baru akan mengantri minta dijadikan tempat penyelenggaraan seri MotoGP.
    Kalau menjadi sponsor di gelaran MotoGP bisa mengangkat citra dan penjualan suatu branded, sponsor akan beramai-ramai mendanai tim-tim MotoGP.

    Kondisi yang sangat kontras dengan gelaran F1.
    Tahun ini saja ada 19 seri, 24 pembalap dan 12 tim peserta F1.
    Kalau tidak dibatasi atas pertimbangan safety, jumlah tim peserta dengan mudah akan bertambah lagi.
    Tahun depan saja sudah mengantri paling tidak 3 sirkuit baru yang ingin menjadi tuan rumah gelaran F1.
    Tim – tim privateer seperti Red Bull bahkan sanggup mengalahkan tim – tim peserta yang in house dikelola oleh pabrikannya langsung seperti Ferrari, Mercedes & Renault.
    Padahal mesinnya sendiri “sewa” milik Renault!!!

    Panitia gelaran F1 masa sekarang sudah benar-benar lebih berpengaruh daripada misi promosi pabrikan untuk meningkatkan penjualan.
    Melepaskan diri dari pengaruh pabrikan besar dan berduit untuk mengatur regulasi yang menguntungkan sepihak salah satu peserta.
    Gelaran F1 adalah gelaran F1 yang ditunggu penggemarnya untuk menyaksikan kualitas balapan yahud, keterampilan pembalap nomor wahid, strategi tim yang jitu, kekuatan-ketangguhan-kelincahan mobil-mobil F1 yang mewakili kecanggihan mobil-mobil masa kini.
    Penonton F1 mencari hiburan dan adrenalin menonton suatu balapan lebih daripada kefanatikan terhadap merk pabrikan yang didukungnya.
    Lebih fanatik terhadap kualitas seorang pembalap, bukan karena pabrikan yang dibelanya.
    Kalaupun masih ada ke-fanatikan merk, itu hanya tersisa pada penggemar setia Ferrari.

    Seharusnya Dorna belajar dari Bernie Ecclestone, bagaimana cara mengelola gelaran balapan grand prix agar menarik minat peserta & penonton, persaingan merata, & mendatangkan profit yang besar untuk semua pihak yang terlibat di dalamnya tanpa mengorbankan kualitas dari balapan tersebut yang digadang-gadang sebagai puncak teknologi otomotif R2.

  • Petter Tesla 10:06 pm on August 26, 2011 | # | Reply

    @Ben piss:
    Betul bgt bro..f1 jd tambah ramai 3thun ini team kecil bisa menyodok ke depan..

  • Daris 2:00 am on August 27, 2011 | # | Reply

    buat peraturan saja agar honda, yamaha, ducati harus menjual mesin prototipe mereka ke tim CRT

  • yusufdani 3:55 am on August 27, 2011 | # | Reply

    wah bener tuh bro ben piss.
    harus kirim usulan.ke dorna langsung tuh supaya sadar hehehhe

  • ben piss 6:53 am on August 27, 2011 | # | Reply

    Yang saya heran kenapa sampai sekarang Dorna tidak berani menerapkan peraturan single fuel supplier & single ECU.

    Fuel alias BBM adalah sumber utama energi.
    Mesin mau dikorek-korek bagaimanapun energi maksimalnya tetap tergantung kualitas & kuantitas bbm.
    Yang diterapkan oleh Dorna hanya batasan kuantitas bbm.
    Tapi kualitas bbm tiap pabrikan berbeda-beda tergantung kekuatan financial mereka.
    Batasan nilai oktan mungkin sama, tapi kualitas belum tentu sama.
    Simple-nya, boleh saja pertamina, shell, & petronas mengklaim angka oktan mereka.
    Diuji RON & MON-nya juga hampir sama.
    Tapi tetap saja berbeda efeknya pada mobil atau motor yang sama.
    Dengan menerapkan single fuel supplier yang ditanggung dan disediakan oleh Dorna, semua peserta mendapatkan jatah energi yang sama yang harus mereka kelola dengan maksimal.
    Diisi di dispenser yang sama yang disediakan Dorna tiap gelaran seri MotoGP.

    ECU adalah otak utama yang mengatur kerja mesin & kestabilan motor modern saat ini.
    Dengan menerapkan peraturan single ECU, tiap pabrikan diperlakukan sama soal kualitas otak ini.
    Masalah fitur – fitur ECU, apa – apa saja yang bisa dikontrol dan bagaimana dia mengontrol, bisa disepakati bersama oleh seluruh peserta.
    Tinggal tiap peserta masing-masing yang memaksimalkan penggunaannya.
    Dan kembali lagi, yang mensupplai harus Dorna dan dikontrol dengan ketat.

    Saya rasa 2 sektor ini ditambah aturan single tyre supplier adalah backbone untuk membuat balapan menjadi kompetitif tanpa mengorbankan kualitas balapan.
    Dengan menerapkan peraturan single tyre, single ECU, & single fuel supplier, ada 2 hal utama yang bisa diraih.
    Pertama, tiap pabrikan berangkat dari energi yang sama yang harus mereka kelola dengan maksimal, memiliki kualitas “otak” yang sama untuk mengatur engine yang mereka ciptakan, dan memiliki “sepatu” yang sama untuk berlari di lintasan.
    Tim – tim privateer bisa berkreasi pada single ECU & pemilihan ban yang paling cocok sehingga tidak mustahil bisa sekencang motor pabrikan.

    Kedua, selain soal pemerataan 3 sektor penting tersebut agar balapan menjadi seimbang, ada hal lain yang bisa dicapai. Yaitu beban tim-tim privateer menjadi jauh berkurang secara financial.

  • ben piss 7:35 am on August 27, 2011 | # | Reply

    Tapi kembali lagi, sanggupkah Dorna menaikkan rating penonton & nilai jual tontonan MotoGP?
    Kalau jumlah penonton antusias bisa ditingkatkan, Dorna pandai menjual ke media TV menjadi tontonan entertain yang ditunggu-tunggu penonton di rumah, hak siar TV & tiket penonton akan mendatangkan profit besar yang ujung-ujungnya menaikkan nilai insentif tiap peserta MotoGP karena merekalah aktor utama gelaran tersebut.

    Seandainya Dorna sudah bisa mengelola MotoGP menjadi tontonan yang menghibur jutaan penonton layaknya sepakbola di Eropa, dimana sebagian besar penontonnya bukanlah pemain sepakbola malah banyak yang tidak pernah bermain bola, pabrikan yang mengambil peran bukan lagi sebagai sponsor balapan tapi justru dibayar.
    Setidaknya biaya pengelolaan tim balap, logistik, bayar pembalap & crew pit, bisa ditutupi dengan insentif sebagai peserta.
    Sehingga biaya yang dikeluarkan oleh pabrikan praktis hanya untuk meriset motor.
    Dan ini bukanlah kesia-siaan belaka, karena bisa sekaligus menjadi lab berjalan untuk produk massal mereka.
    GImana gak menarik kalau kondisinya bisa begitu…biaya “tes dan pengujian” di sirkuit gak perlu pusing cari dananya.
    Ikut saja MotoGP, bisa uji mesin yang dananya didapat dari penyelenggara Dorna sebagai bayaran atas keikutsertaan / kemenangannya di sirkuit.
    Belum lagi promosi gratis kalau tim-nya menang.

    Gw membayangkannya seperti Liga Champion Eropa dimana tiap laga yang diikuti oleh sebuah club, mendapat bayaran yang gede dari UEFA.
    Mulai dari babak penyisihan sampai menjadi juara, uang “tampil berlaga” sangat besar.
    Sehingga keikutsertaan sebuah club juara nasional tampil di liga champion eropa bukan lagi sebagai beban kewajiban, tapi merupakan berkah yang dikejar oleh semua club.
    Duit gede didapat, nama besar sebagai juara didapan, pemain berbakat berlomba-lomba “mendaftar” jadi pemain club tersebut.
    F1 sudah mendekati kondisi itu.

    Liga champion Asia masih jauh dari kondisi itu.
    Begitu juga MotoGP….

    • masTer Samidi O_O 9:28 am on August 29, 2011 | # | Reply

      Mantap sangat ni analisisnya bro ben piss..selamat dulu deh atas kemenangannya semalem:mrgreen: ! Yoi bro, makasih tambahan ilmu-ilmunya..dari maslah ECU (yang diterapkan juga di F1) sampe masalah promosi2 tim di motoGP. Kalo ga salah, bukannya F1 sudah menggunakan single ECU ya (yang bikin mc laren). Memang di awal-awal kebijakan single ECU itu muncul pro dan kontra. Terutama karena produsen ECU nya salah satu pemain di F1 juga. Tapi dengan kontrol yang ketat, semua kekhawatiran kecurangan yang muncul gak terbukti.
      Motogp masih belum berani menerapkan kebijakan-kebijakan yang membatasi seperti single ECU tersebut. Karena label ‘balap motor prototipe’ sepertinya sangat dekat dengan ‘segala sesuatunya haruslah prototipe’. Memang siiih itu bikin balapan sepertinya menarik karena prototipe hidup di dunia mimpi dan sepertinya bakal menyajikan sajian-sajian yang gak bisa ditampilkan oleh motor jalanan biasa. Tapi, ternyata segala sesuatu yang berbau prototipe itu ujung-ujungnya duit yang nauzubileh gedenya minta ampun. Ujung-ujungnya pabrikan kaya lah yang bisa berbicara di situ.
      Namun, dengan kondisi perekonomian dunia yang ternyata lesu, balap prototipe makin lama makin gak menguntungkan buat pabrikan! Lha wong udah ngabisin duit banyak bangettapi gak bisa langsung diterapan buat motor jalanan kok! Contoh yang paling baru Honda, gearbox yang super muahal itu sama sekali gak bisa dipakai di motor produksi massal karena hanya bisa bekerja di putaran mesin yang sangat tinggi.
      Sepertinya Dorna masih ngeyel kalau balap prototipe pun harus berkompromi dengan perubahan yang terjadi. Kalau memang beberapa komponen bisa dibikin ‘massal dan terstandar’, kenapahal itu masih tabu dilakukan? Toh ujung-ujungnya mungkin malah lebih menguntungkan…tim dengan kemampuan balap yang gak terlalu jomplang, skills rider yang berbicara, balap yang gak tergantung oleh figur pembalap dan tentunya tontonan yang laku!
      Tapi sepertinya Dorna memang masih ‘tunduk’ pada pabrikan-pabrikan utama yang main di motoGP (terutama pabrikan Jepang). Kenapa ane bilang gitu? Lha…yang main di motoGP siapa sih? Tiga pabrikan motor dari Jepang satu dari Eropa. Kalo Honda, Yamaha dan Suzuki boikot motoGP apa lalu Dorna masih tetap menyelenggarakan motoGP? Apa mau Dorna malah bikin OMR Ducati? Gak mungkin lah! Makanya itu pabrikan Jepang punya daya tawar yang sangat tinggi disini!

  • ben piss 5:36 am on August 30, 2011 | # | Reply

    @ Master Samidi,
    Sama-sama Bro…

    Masalah boikot dari peserta MotoGP…
    Hal itu juga pernah terjadi di F1, bahkan asosiasi pabrikan dunia berencana membuat F1 tandingan.
    Tapi Bernie Ecclestone gak gentar, karena dia tahu bahwa asosiasi pabrikan membentuk organisasi penyelenggara balapan itu adalah hal yang mustahil.
    Baru membuat regulasinya saja pasti udah berantem karena akan ngotot menggolkan regulasi yang menguntungkan masing-masing pabrikan.
    Bernie sudah lama menyiapkan benang merah regulasi yang membuat balapan F1 itu adalah untuk penonton, bukan untuk pabrikan.
    Penonton senang, sponsor & sorotan media berdatangan, duit datang dengan sendirinya.
    Magnet ini akan mengundang pabrikan datang dengan sendirinya.
    Yang dijjual adalah tontonan yang menghibur tanpa mengurangi kualitas balapan.

    Dorna harus confidence bahwa pabrikan Jepang tidak bakalan melakukan walk out kalau membuat regulasi yang tidak sesuai dengan kepentingan mereka.
    Emang mau balapan di mana lagi???
    Masalahnya Dorna seperti tidak tau apa yang harus dibuat, regulasi di ubah-ubah terus dalam waktu singkat.
    Balapan 800cc 2007 – 2009 tidak kompetitif, regulasi ditambah dengan batasan 6 mesin maksimal. Tujuannya agar balapan lebih irit, dan terutama pabrikan kaya tidak bisa seenaknya ganti mesin setiap race.
    Tunggu dulu…emangnya riset 6 mesin yang sanggup tahan 1 musim itu gak butuh duit gede???
    Kualitas material engine jelas berubah…itu yang kelihatan…
    Masih banyak hal-hal kecil yang harus diubah agar durabilitas engine bisa bertambah.
    Kapasitas fuel juga dipangkas, artinya butuh dana riset lagi untuk mengembangkan perangkat elektronik yang mengatur manajemen mesin agar lebih irit tapi tetap powerfull, butuh dana riset lagi untuk mencari celah-celah mengurangi friksi dalam komponen mesin, mengurangi bobot material (material eksotik lagi dah…) komponen mesin agar lebih lancar berputar…ujungnya irit fuel…🙂

    Tahun pertama (2010) Suzuki megap-megap sampai harus dapat pinalti karena butuh tambahan mesin baru.
    Tahun kedua sudah mulai dapat kunciannya, motor makin durable dan kompetitif bahkan seri kemarin kelihatan kalau lebih baik dari Ducati.
    Tapi apa lacur….regulasi berubah lagi tahun depan…wkwkwkwkwk….
    Benar-benar koplak nih si Dorna!!!!

    Sebenarnya apa sih yang dicari????
    Mau 800cc kek, 1000cc kek, mau kembali ke 500cc kek…sama saja!!!
    Kalau setiap saat regulasi mesin diubah-ubah, hanya pabrikan kaya saja yang akan bertahan di MotoGP!!!
    Seharusnya regulasi mesin jangan diubah-ubah karena akan membuang sia-sia dana riset pabrikan yang dengan susah payah mengejar ketertinggalan dari tim yang duluan unggul.
    Kalau regulasi tidak diubah, pelan tapi pasti tim pabrikan yang tertinggal akan mengejar ketertinggalan dengan kecerdasan mereka mengolah teknologi mengikuti regulasi.
    Buktinya lihat saja tahun 2008 – 2010, Yamaha sukses mengalahkan Ducati.
    2011, giliran Honda yang bersinar, Suzuki juga makin kompetitif.
    Kalau mau makin cepat kompetitif, beri dispensasi ke pabrikan yang belum pernah juara atau bahkan podium.
    Misalnya, jatah mesin boleh ditambah tanpa pinalti.
    Jatah ban ditambah.
    Tujuannya untuk mengurangi beban alokasi dana riset.
    Setelah dinilai kompetitif, dispensasi itu bisa dicabut.
    Lha ini malah bikin dagelan baru yang namanya CRT.
    Yang diberi dispensasi alokasi mesin & fuel capacity justru malah tim privateer.
    Padahal nyawa motor adalah engine.
    Engine produk massal mau dikorek-korek bagaimanapun oleh tim privateer tidak bakalan mampu bersaing dengan pabrikan kuat.
    Karena bicara komponen mesin prototipe, butuh manufacturing yang super presisi.
    Tim privateer apa punya fasilitas sebaik pabrikan????
    Kalau hanya bermain di chassis, tim privateer bisa melayani tantangan tapi kalau komponen mesin? nonsense!!!
    Di WSBK saja yang terbatas ruang penggunaan part racing, tim murni privateer tidak bisa mengalahkan tim yang didukung oleh pabrikan, ya karena masalah manufacturing ini.
    Seharusnya regulasi 2012 yang memberikan kelonggaran ke CRT itu dibuat untuk tim-tim pabrikan yang baru masuk berlaga menjagokan motor prototipe-nya.
    Bukannya ke tim CRT yang memodifikasi mesin motor produk massal.
    Benar-benar koplak dah si Dorna ini.
    Taruhan deh, tahun depan tetap saja Honda vs Yamaha. Mudah-mudahan Honda vs Yamaha vs Ducati.
    CRT? Syukur kalau bisa finish urutan 10.

    Udah ah…capek sendiri gw mikirin si Dorna koplak.
    Mudah-mudahan kalau Rossi pensiun, MotoGP tidak mati suri.
    Minimal masih seperti kondisi sekarang…

    Thank you Bro Samidi, gw diperbolehkan bikin coretan panjang di jendela blognya🙂
    Tidak lupa buat Bro Samidi & semua brother-broter yang lain, gw ucapkan:

    SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1432H
    MINAL AIDIN WAL FAIZIN MOHON MAAF LAHIR & BATIN

    • Nelly Susiandina 10:46 pm on September 5, 2011 | # | Reply

      Betul banget bro,ane setuju………………..sayank banget lihat satu persatu team barisan belakang harus angkat kaki dari ajang balap motogp.
      padahal mereka pelan tapi pasti sudah mulai bisa mengejar bahkan mengimbangi ketertinggalan dari para team pabrikan barisan depan.
      Buktinya tahun 2011 saat ini banyak yang lesu nontonnya,karena rossi kurang kompetitif,menurut perkiraan ane sich rating bakalan turun atau bahkan bisa mati suri setelah rossi mulai pensiun.
      padahal rossi berjuang keras membuat motogp menjadi tontonan menarik bahkan menjadikannya tontonan wajib serta mempopulerkannya keseluruh belahan dunia,jujur banget ane suka motogp karena factor rossi yang bisa bikin setiap balapan jadi seru,saat jatuhpun dia bisa bikin yang nonton gregetan sendiri dengan aksi-aksinya.
      kalau lihat para pembalap laen sepertinya pada suka jadi lonely rider alias ngacir sendirian battle sama aksi over takingnya kurang jadinya bikin penonton boring.
      untung banget ada supersic ditahun 2011 ini dengan aksinya yang nyeleneh bikin balapan lumayan seru ditonton,bukan balapannya sich tapi nungguin korban supersic berikutnya yang asyik.


Tulis komentar aaahhh....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: