Desain Modifikasi Motor Terbaik: www.otodesain.net

  • 03:21:58 pm on August 24, 2011 | 7
    Tags: , , , , , , ,


    Hola masbro… Ngobrolin motor yuukkk…hihihi.. Sekarang lagi ada ide apa ya yang bisa buat bahan obrolan…mmmm…ini aja nih, Ducati, antara winning bike and iconic bike. Langsung aja! Di motoGP, Ducati masih terseok-seok menemukan racikan motor yang mantap. Ada beberapa sektor yang dituding menjadi biang kerok Desmosedici jadi bandel. Dua hal yang sering disorot adalah sasis dan mesin. Sasis Desmosedici yang bermaterial karbon dianggap kurang bersahabat dengan pengendara. Material sasis itu dituding membuat pembalap gak bisa ngerasain apa yang dialami oleh ban depan motor.

    Tudingan kedua adalah mesin konfigurasi L yang diusung Ducati dimensinya terlalu besar, sehingga mesin itu terlalu makan tempat. Plus, penempatan yang kurang ideal dari mesin berkonfigurasi L itu mengakibatkan geometri motor yang gak pas. Ujung-ujungnya adalah karakteristik motor yang kurang bisa dikendalikan dan sulit menari-nari gemulai di sirkuit. Dua komponen itu, mesin dan sasis, adalah komponen yang sangat khas bagi Ducati. Gak ada pabrikan lain di balap motoGP yang menggunakan sasis full karbon dan mesin berkonfigurasi L. Yah, walaupun belum menang paling gak udah khas lah..hehehe…

    Ducati, GP8, MotoGP, Casey Stoner, Iconic Bike

    The last mariage of iconic and winning bike

    Sebenarnya kenapa sih Ducati menggunakan mesin berkonfigurasi L tersebut? Padahal jelas-jelas konfigurasi L adalah konfigurasi yang banyak makan tempat. Gak seperti mesin RCV yang hemat tempat walaupun sama sama V (karena sudut mesinnya lebih kecil). Penggunaan mesin L tersebut gak ada alasan lain selain mesin L adalah ciri khas Ducati. Sedangkan untuk rangka? Yup…gak lain dan gak bukan salah satu alasannya adalah agar Ducati bisa membuat rangka yang pas untuk mesin L nya. Rangka yang gak banyak makan tempat seperti rangka trellis terdahulunya.

    Dari strategi yang selama ini telah diambil Ducati, sangat terlihat kalau Ducati ingin menggabungkan agar sebuah iconic bike bisa pula menjadi winning bike. Seperti yang masbro semua tahu, untuk menjadi iconic bike, sebuah motor harus memiliki kekhas-an tersendiri. Harus memiliki identitas yang berbeda dengan motor-motor lain yang telah ada. Dan ke-khas an itu haruslah konsisten ada dalam jangka waktu yang lama. COnohnya apa siiihhh…gampang kok, mesin konfigurasi L, rangka trellis, dan rangka karbon. Mesin L digunakan baik di motoGP maupun motor produksi missal Ducati. Rangka trellis? Pernah digunakan di motoGP tapi masih digunakan di motor superbikenya. Rangka karbon? Saat ini masih digunakan di motoGP dan kabarnya jadi masa depan motor-motor superbike Ducati.

    Tapi sayangnya, perkawinan antara iconic bike dan winning bike sepertinya kurang harmonis. Iconic bike dan winning bike memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri yang sialnya gak bisa saling melengkapi. Dibutuhkan kompromi yang besar agar perkawinan itu bisa berjalan lancar. Contohnya? Ducati masih bisa mempertahankan konfigurasi mesin L nya tetapi dengan jumlah silinder yang lebih banyak dibandingkan yang dipakai di motor produksi massalnya. Kalau motor produksi massalnya adalah L2, Desmosedici menggunakan mesin L4. Hal itu dibutuhkan agar tenaga yang dihasilkan besar tetapi masih sesuai dengan regulasi yang ada di motoGP.

    Bagaimana dengan sasis trellis? Ducati sempat menggunakan sasis trellis sejak GP3 (2003) sampai GP8 (2008). Sasis trellis adalah ciri khas Ducati..coba deh amatin motor-motor kaya Monster sampai 1198, mereka menggunakan sasis trellis. Tapi lagi-lagi Ducati harus berkompromi dengan ke-khas-an nya itu. Rangka trellis ternyata banyak makan tempat sehingga teknisi gak bisa meracik airbox yang optimal buat kebutuhan mesin. Selain itu, rangka trellis dituding terlalu sering menghasilkan data yang berbeda dalam tiap pengujian performa motor. Artinya gini bro, data telemetri yang dihasilkan dari rangka trellis terlalu bervariasi dan tidak konsisten. Kan susah tuh, kalau ada sesuatu yang salah mana yang mau dibeneriiin, wong data aga berubah-ubah. Nhaaaa…itulah alas an kenapa Ducati meminang serat karbon untuk diukir menjadi sasis. Tapi sepertinya usaha Ducati masih mengalami hambatan yang serius. Material karbon yang diharapkan menjadi ciri khas Ducati di masa depan ternyata gak seindah yang diharapkan. Dan lagi-lagi Ducati dihadapkan oleh kompromi yang berat. Menggunakan material alumunium untuk motor balapnya. Sebuah material yang gak Ducati banget, karena material itu digunakan oleh semua pabrikan motor di dunia.

    Ducati Monster, Trellis Frame, Iconic Bike

    Cuma butuh beberapa detik untuk mengenali motor apa ini. Itulah mengapa Ducati ngeyel mengawinkan iconic dan winning bike!

    Sebenarnya, kenapa sih Ducati ngeyel pakai mesin L, rangka trellis dan serat karbon? Agar berbeda bro! Diferensiasi dengan pabrikan motor lain, terutama pabrikan motor Jepang. Sebagai pabrikan motor yang relatif lebih ‘kecil’ dibandingkan Honda dan Yamaha, tentu ucati membutuhkan suatu pembeda agar motor-motornya lebih diingat oleh konsumen. Agar bisa menunjukkan kalau Ducati punya ‘kelas’ tersendiri, agar Ducati punya positioning yang berbeda. Dan ingat, untuk mencapai derajat iconic bike harus ada cirri khas yang konsisten dari masa ke masa. Itulah kenapa Ducati ngeyel ciri khas yang dimiliki motor balapnya dimiliki pula oleh motor produksi massalnya.

    Demikian bro, sedikit pemikiran dari ane. Monggo diobrolin, kalau ada yang salah-salah monggo dikoreksi. Semoga bermanfaat :wink:

    About these ads
     

Comments

  • win 6:45 pm on August 24, 2011 | # | Reply

    keren ulasannya mister

  • rossifumi 8:03 am on August 25, 2011 | # | Reply

    mantap bro ulasannya,.semoga bisa saling menutupi kedua faktor itu,.jadi VR46 bisa kembali berbisnis di podium,

  • sixxer 8:33 am on August 25, 2011 | # | Reply

    saya rasa ducati bisa mencoba untuk kembali ke sasis tralis, kita bisa liat di WSBK checa cukup berhasil dengan 1198 yg berangka tralis.

    walau sepertinya rossi harus menyesuaikan gaya balapnya disasis tralis, tapi saya rasa sasis tralis lebih memiliki kelenturan yg oke ketimbang serat karbon.

    karbon memang bahan masa depan dan ducati is iconic bike, kalau ducati merubah soul motornya dengan menggunakan deltabox maka secara market bisa saja para pecinta ducati akan mencibir ducati…

  • merahsa 10:28 am on August 25, 2011 | # | Reply

    bukan berarti pilihan mesin L itu cuma sbg pembeda aja bro…
    pasti adalah keunggulan dari sisi teknisnya juga..
    salah satunya COG lebih baik drpd mesin inline / V

  • Petter Tesla 1:11 pm on August 26, 2011 | # | Reply

    Ngelawan arus…bonyok dewe…

  • aiefz 4:46 pm on August 26, 2011 | # | Reply

    Ulasannya top,mungkin seharusnya nyoba dulu pake sasis tralis,klo gagal baru pake alumunium
    http://aiiefz.wordpress.com/2011/08/25/waduh-jebol-masbro/


Tulis komentar aaahhh....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 665 other followers

%d bloggers like this: